
Rumah Sakit Darmo berdiri sebagai manifestasi dari perkembangan tata kota Surabaya yang mulai bergeser ke arah selatan pada awal abad ke-20. Dalam konteks kolonialisme, pembangunan RS Darmo oleh perkumpulan Surabayasche Zieken Verpleging (SZV) menunjukkan adanya upaya kelompok sosial Belanda untuk meningkatkan standar kesehatan di Hindia Belanda.
Namun, signifikansi RS Darmo melampaui peran medisnya. Gedung ini merupakan “titik nol” dari berbagai peristiwa heroik. Lokasinya yang strategis di Jalan Raya Darmo menjadikannya objek vital yang diperebutkan selama Perang Pasifik hingga Revolusi Fisik Indonesia. Signifikansi sejarahnya mencapai puncaknya ketika area di depan gedung ini menjadi medan pertempuran sengit antara tentara Sekutu dan “Arek-arek Suroboyo” pada 27 Oktober 1945, yang menjadi pemantik rangkaian peristiwa menuju pertempuran besar 10 November 1945.