
Gedung Kantor Pos Kebonrojo bukan sekadar fasilitas publik, melainkan artefak hidup yang merekam ambisi kolonial dan semangat revolusi. Di bawah kendali Hindia Belanda, gedung ini merepresentasikan kekuasaan administratif melalui sistem komunikasi yang terpusat. Keberadaannya di Regentstraat (sekarang Jalan Kebonrojo) menandai pusat birokrasi penting di Surabaya.
Namun, nilai sejarah paling heroik muncul pada masa revolusi. Gedung ini menjadi saksi ketangguhan pegawai pos pribumi yang berani merebut kembali kedaulatan komunikasi dari tangan Jepang pada Oktober 1945. Tak lama kemudian, gedung ini menjadi basis pertahanan dalam pertempuran sengit melawan Sekutu. Meski sempat menjadi markas sementara bagi tentara Sekutu, semangat “Arek-arek Suroboyo” berhasil memastikan bahwa gedung ini tetap tegak berdiri sebagai milik bangsa Indonesia hingga saat ini.