Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria

Nama Resmi

Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria

Arsitek

Dirancang oleh W. Westmaas (arsitek asal Belanda) dan Muljono Widjosastro (Indonesia).

Tahun

Dimulai dengan pemancangan tonggak pertama pada 12 April 1899 dan diresmikan pada 5 Agustus 1900.

Fungsi Awal

Sebagai tempat peribadatan umat Katolik di Surabaya untuk menggantikan gereja sebelumnya yang sudah tidak memadai.

Gaya Arsitektur

Neo-Gotik dengan ciri khas jendela lancip, dinding batu bata ekspos, dan denah berbentuk salib jika dilihat dari atas.

Narasi Deskripsi Sejarah

Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria bukan sekadar bangunan peribadatan; ia adalah saksi bisu dinamika sosial-politik di Hindia Belanda. Keberadaannya menandai pergeseran pusat kota Surabaya dari kawasan perdagangan lama menuju zona administratif dan militer kolonial yang lebih modern.

Dalam konteks kolonialisme dan imperialisme, pembangunan gereja semegah ini menunjukkan konsolidasi kekuatan Belanda di Surabaya. Gereja ini dikelilingi oleh infrastruktur strategis seperti Pabrik Senjata (Altellerie Constructie Winkel), pabrik uang logam, serta tangsi dan rumah sakit tentara. Hal ini mencerminkan bagaimana institusi religi menjadi bagian dari tata ruang kota yang didominasi oleh kepentingan militer dan ekonomi kolonial.

Gereja ini juga memikul beban sejarah Perang Kemerdekaan 1945. Di tengah berkecamuknya pertempuran Arek-arek Suroboyo melawan sekutu, bangunan ini hancur terkena bom dan terbakar hebat. Kerusakan tersebut menjadi simbol pengorbanan fisik sebuah kota yang menolak tunduk kembali pada imperialisme. Meskipun direnovasi pada tahun 1949-1950, beberapa elemen asli seperti menara tinggi sempat hilang, meninggalkan bekas luka sejarah yang tetap terasa hingga hari ini.

1899

Pemancangan tonggak pertama Gereja Kepanjen menggunakan ratusan tiang kayu yang didatangkan khusus dari Eropa.

1899

Peletakan batu pertama oleh Pastor PJ van Santen disertai penanaman tabung timah berisi piagam perkamen.

1900

Peresmian dan pemberkatan gedung gereja oleh Mgr. Edmundus Sybrandus Luypen pada 5 Agustus.

1945

Gedung gereja hancur dan terbakar akibat pertempuran besar di Surabaya.

1949–1950

Renovasi besar-besaran oleh Pastor P.A. Bastiansen CM dengan mempertahankan gaya asli namun tanpa menara.

1996–1998

Penambahan kembali dua menara stainless steel setinggi 3,5 meter dan penetapan resmi sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya.