Gedung Internatio berdiri sebagai monumen fisik dari dampak kolonialisme dan imperialisme di Surabaya. Pada awal abad ke-20, bangunan ini berfungsi sebagai urat nadi ekonomi bagi pemerintah kolonial Belanda, menangani aktivitas kredit dan perdagangan internasional yang mengukuhkan posisi Surabaya sebagai pelabuhan utama di Hindia Belanda.
Namun, makna gedung ini berubah drastis saat pecahnya revolusi kemerdekaan. Gedung ini menjadi pusat sejarah signifikan pada masa pertempuran 1945 karena lokasi strategisnya yang berada di depan Jembatan Merah. Setelah pasukan Sekutu mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak pada tahun 1945, Gedung Internatio langsung dikuasai dan dijadikan sebagai markas pertahanan mereka.
Peristiwa paling krusial terjadi pada akhir Oktober 1945. Setelah negosiasi gencatan senjata, massa rakyat Surabaya mengepung gedung ini, menuntut tentara Inggris (Sekutu) untuk menyerah. Ketegangan memuncak di depan gedung ini dan berujung pada baku tembak yang menewaskan pemimpin pasukan Inggris, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Peristiwa kematian Mallaby di area Gedung Internatio inilah yang kemudian memicu dikeluarkannya ultimatum Inggris dan meledaknya Pertempuran 10 November 1945.