Internationale Credit en Handelsvereeniging " Rotterdam " - Gedung Internatio

Nama Resmi

Gedung Internationale Crediet-en Handels-Vereeniging “Rotterdam” (Gedung Internatio).

Arsitek

Biro arsitek AIA (Algemeen Ingenieurs en Architecten Bureau).

Tahun

Dibangun pada tahun 1929

Fungsi Awal

Kantor pusat perkumpulan kredit dan perdagangan internasional Rotterdam (Internationale Crediet-en Handels-Vereeniging Rotterdam).

Gaya Arsitektur

Memiliki langgam arsitektur Eropa/Belanda yang sangat kental dan dominan

ARSITEK

Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels

Narasi Deskripsi Sejarah

Gedung Internatio berdiri sebagai monumen fisik dari dampak kolonialisme dan imperialisme di Surabaya. Pada awal abad ke-20, bangunan ini berfungsi sebagai urat nadi ekonomi bagi pemerintah kolonial Belanda, menangani aktivitas kredit dan perdagangan internasional yang mengukuhkan posisi Surabaya sebagai pelabuhan utama di Hindia Belanda.

Namun, makna gedung ini berubah drastis saat pecahnya revolusi kemerdekaan. Gedung ini menjadi pusat sejarah signifikan pada masa pertempuran 1945 karena lokasi strategisnya yang berada di depan Jembatan Merah. Setelah pasukan Sekutu mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak pada tahun 1945, Gedung Internatio langsung dikuasai dan dijadikan sebagai markas pertahanan mereka.

Peristiwa paling krusial terjadi pada akhir Oktober 1945. Setelah negosiasi gencatan senjata, massa rakyat Surabaya mengepung gedung ini, menuntut tentara Inggris (Sekutu) untuk menyerah. Ketegangan memuncak di depan gedung ini dan berujung pada baku tembak yang menewaskan pemimpin pasukan Inggris, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Peristiwa kematian Mallaby di area Gedung Internatio inilah yang kemudian memicu dikeluarkannya ultimatum Inggris dan meledaknya Pertempuran 10 November 1945.

1927 – 1929

Masa pembangunan oleh biro AIA

1931

Diresmikan sebagai kantor pusat Internatio di Surabaya.

1942 – 1945

Diambil alih oleh otoritas Jepang saat masa pendudukan.

1945

Menjadi markas pertahanan pasukan Inggris (Sekutu). Di depan gedung inilah meletus pertempuran yang menewaskan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby.

1951

Pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi terhadap De Javasche Bank.

Pasca Kemerdekaa

Dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia.

Sekarang

Dikelola oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) dan ditetapkan sebagai Cagar Budaya.