Klenteng Boen Bio (Hokkian: Wen Miao)
Nama Resmi
Klenteng Boen Bio (Hokkian: Wen Miao) atau secara resmi di bawah naungan Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Surabaya.
Arsitek
Pembangunan awal dan pemindahannya menggunakan jasa pengrajin/tukang yang didatangkan langsung dari Tiongkok untuk memastikan keaslian gaya arsitekturalnya.
Tahun
Tahun Pembangunan: Didirikan pertama kali pada tahun 1883 dengan nama Boen Tjiang Soe di Kapasan Dalam, kemudian dipindahkan dan dibangun kembali di lokasi saat ini (tepi jalan raya Kapasan) pada 1906.
Fungsi Awal
Sebagai tempat ibadah khusus umat Khonghucu (Wen Miao atau Kuil Kesusastraan) serta pusat pendidikan kebudayaan Tionghoa.
Gaya Arsitektur
Perpaduan unik antara arsitektur tradisional Tiongkok, pengaruh Kolonial Belanda (terlihat pada bentuk jendela dan lantai), serta sentuhan Jawa (pada ukiran kayu penyekat altar).
Narasi Deskripsi Sejarah
![]()
Klenteng Boen Bio menempati posisi yang sangat istimewa dalam peta sejarah Surabaya dan Hindia Belanda. Berbeda dengan mayoritas klenteng di Indonesia yang bersifat sinkretis (Tri Dharma), Boen Bio adalah satu-satunya tempat ibadah di Asia Tenggara yang murni menjalankan ajaran Khonghucu tanpa adanya patung dewa-dewi (Kimsin) di altar utamanya, melainkan hanya papan roh (Sinci). Peran dalam Peristiwa Besar & Nasionalisme: Gedung ini merupakan monumen perlawanan kultural dan politik. Pada awal abad ke-20, Boen Bio menjadi basis gerakan nasionalisme Tionghoa di Surabaya yang dipicu oleh tekanan ekonomi dari pemerintah Hindia Belanda, terutama melalui monopoli perdagangan Handels Vereeniging Amsterdam (HVA). Umat Boen Bio memelopori boikot terhadap perdagangan Belanda pada 1902, yang hasilnya digunakan untuk membiayai pemindahan klenteng dan pendirian sekolah Tiong Hoa Hwe Koan (THHK).
Tokoh besar seperti K’ang Yu Wei, pemimpin gerakan reformasi dari Tiongkok, sempat berkunjung pada 1904 dan memberikan pengaruh besar bagi modernisasi fisik bangunan ini. Tak hanya itu, Liem Koen Hian menggunakan Boen Bio sebagai markas gerakannya saat ia menyerukan warga Tionghoa untuk mendukung nasionalisme Indonesia di awal 1930-an.
1882
Perundingan antara Go Tik Lie dan Lo Toen Siong dengan Mayor The Boen Ke untuk memohon tanah guna mendirikan kuil Khonghucu.
1883
Klenteng pertama selesai dibangun di Kapasan Dalam dengan nama Boen Tjiang Soe.
1902
Aksi demo dan boikot pedagang Tionghoa terhadap HVA (perusahaan dagang Belanda) yang membuahkan hasil denda, yang kemudian disumbangkan untuk pengembangan Klenteng.
1904
Kunjungan K’ang Yu Wei yang menyarankan pemindahan lokasi bangunan ke tepi jalan raya agar lebih representatif.
1906
Pembangunan gedung baru dimulai dan lokasi lama dialihfungsikan menjadi sekolah THHK.
1907
Nama bangunan resmi berganti menjadi Boen Bio.
1967
Pada masa Orde Baru, identitas Khonghucu ditekan. Namun, Boen Bio tetap bertahan dengan namanya tanpa beralih menjadi Tempat Ibadah Tri Dharma.
2017
Ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi Jawa Timur.