MASJID AGUNG SUNAN AMPEL
Nama Resmi
Kata “Ampel” berasal dari kata “Ngampel” dalam bahasa Jawa yang berarti meminjam atau memanfaatkan sebagian lahan pemberian Raja Majapahit.
Tahun
Didirikan sekitar tahun 1421 M oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) sebagai pusat peradaban Islam tertua di Surabaya.
Arsitektur
Raden Mohammad Ali Rahmatullah (Sunan Ampel), dibantu oleh Mbah Sholeh, Mbah Sonhaji, dan para santrinya.
Fungsi Awal
Sebagai pusat dakwah, tempat ibadah (shalat), pesantren untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit, serta tempat berkumpulnya para Wali Songo untuk membahas strategi penyebaran Islam di tanah Jawa.
Gaya Arsitektur
Perpaduan Jawa Kuno (Hindu-Budha) dan Nuansa Arab Islami. Hal ini terlihat pada atap tumpang dan penggunaan 16 tiang utama kayu jati tanpa hiasan berlebih
ARSITEK



Narasi Deskripsi Sejarah

Masjid Agung Sunan Ampel bukan sekadar rumah ibadah; ia adalah jantung dari transformasi sosial-budaya di pesisir utara Jawa. Didirikan di atas tanah pemberian Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V, masjid ini menandai era transisi dari pengaruh dominan Hindu-Budha menuju Islamisasi yang damai melalui strategi akulturasi.
Dalam konteks kolonialisme, kawasan Ampel memiliki signifikansi yang unik. Pada masa Hindia Belanda, pemerintah kolonial menerapkan kebijakan Wijkenstelsel, yaitu pembagian pemukiman berdasarkan etnis untuk memudahkan kontrol sosial. Ampel kemudian ditetapkan sebagai Arabische-kamp (Kampung Arab). Meskipun berada di bawah tekanan segregasi kolonial, Masjid Ampel tetap menjadi simbol kedaulatan spiritual yang tidak tersentuh oleh otoritas Belanda. Masjid ini menjadi titik temu kaum imigran (Hadramaut) dan penduduk lokal, menciptakan “ruang ketiga” yang resisten terhadap upaya imperialisme dalam memecah belah identitas masyarakat melalui percampuran budaya dan ekonomi di sekitar pasar dan pelabuhan.
1401 M
Kelahiran Raden Rahmat (Sunan Ampel) di Champa.
1421 M
Sunan Ampel tiba di Surabaya dan mulai membangun Masjid serta Pondok Pesantren Ampel di wilayah rawa-rawa Ampeldenta.
1481 M
Wafatnya Sunan Ampel; beliau dimakamkan di sebelah barat masjid.
1868 M
Perluasan Masjid Agung Ampel di bawah naungan Bupati Surabaya, Tjokronegoro IV
1900-an
Pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak meningkatkan arus pendatang dari luar Jawa dan Timur Tengah ke kawasan Ampel.
1926 M
Surabaya menjadi ibu kota Provinsi Jawa Timur, memperkuat posisi Ampel sebagai pusat bisnis dan religi tertua.
1972 M
Kawasan Masjid Agung Sunan Ampel secara resmi ditetapkan sebagai objek Wisata Religi oleh Pemerintah Kota Surabaya.
1992 M
Renovasi besar-besaran dilakukan untuk memperluas bangunan utama hingga mampu menampung lebih dari 1.000 jamaah tanpa mengubah 16 tiang jati aslinya.