Pelabuhan Tanjung Perak

Nama Resmi

De Javasche Bank (DJB)

Arsitek

Dirancang secara bertahap oleh Ir. W. de Jongth (rencana awal 1875), dilanjutkan oleh Ir. W.B. Van Goor (awal abad ke-20), dengan supervisi dari Prof. Dr. Kraus dan G.J. de Jong.

Tahun

Perencanaan dimulai tahun 1875, pembangunan fisik secara masif dimulai setelah tahun 1910 dan selesai sekitar tahun 1920-an.

Fungsi Awal

Pelabuhan samudra internasional untuk melayani kapal-kapal uap bertonase besar guna mendukung ekspor komoditas perkebunan (terutama gula) dan impor barang industri.

Gaya Arsitektur

Modern-fungsional abad ke-20 (pelabuhan samudra) yang dilengkapi dengan fasilitas teknologi mutakhir pada masanya, seperti dermaga beton (kade), derek listrik, dan dok terapung.

Narasi Deskripsi Sejarah

Pelabuhan Tanjung Perak bukan sekadar gerbang laut, melainkan manifestasi dari pergeseran zaman. Pada abad ke-19, Surabaya mengandalkan Jembatan Merah sebagai pelabuhan utama melalui Sungai Kalimas. Namun, seiring meledaknya revolusi industri dan pesatnya produksi gula di pedalaman Jawa Timur (hinterland), Kalimas yang dangkal tidak lagi mampu menampung kapal-kapal samudra modern.

Signifikansi Tanjung Perak terletak pada perannya sebagai pusat ekonomi regional. Pembangunannya dipicu oleh persaingan kolonial Belanda dengan Singapura demi mendominasi perdagangan di Hindia Belanda bagian timur. Dalam konteks kolonialisme dan imperialisme, pelabuhan ini menjadi instrumen efisiensi untuk mengeruk hasil bumi Nusantara demi pasar global.

Secara historis, pelabuhan ini juga menjadi basis pertahanan vital. Sebagai pangkalan Angkatan Laut terbesar di Hindia Belanda, Tanjung Perak menjadi sasaran strategis dalam Perang Dunia II, di mana pesawat Jepang menyerang dan merusak infrastrukturnya pada tahun 1942. Pasca-kemerdekaan, Tanjung Perak bertransformasi dari simbol eksploitasi menjadi simbol kedaulatan maritim Indonesia, yang kini dikelola oleh PT Pelindo III.

1875

Ir. W. de Jongth menyusun rencana pertama pembangunan pelabuhan, namun ditolak karena biaya yang sangat tinggi.

1910

Pembangunan fisik Pelabuhan Tanjung Perak dimulai secara bertahap berdasarkan rencana Ir. W.B. Van Goor.

1921

Pembangunan utama selesai, memungkinkan kapal samudra merapat langsung di dermaga tanpa bantuan tongkang.

1930

Menjadi pelabuhan gula terbesar ketiga di dunia, sebelum terdampak Depresi Ekonomi Dunia.

1942

Serangan udara Jepang merusak fasilitas pelabuhan; masa pendudukan Jepang dimulai.

1945

Pasca-proklamasi, pangkalan Angkatan Laut di Ujung (Tanjung Perak) menjadi lokasi perebutan senjata oleh pejuang kemerdekaan.

1960

Nasionalisasi perusahaan pelayaran (seperti KPM) dan pengalihan manajemen pelabuhan ke tangan pemerintah RI.

1992

Perubahan status menjadi PT (Persero) Pelabuhan Indonesia III dan pembangunan Terminal Petikemas Surabaya bertaraf internasional.