
Gedung ini merupakan saksi bisu transformasi sosial di Surabaya. Awalnya, gedung ini berfungsi sebagai tempat asosiasi para kaum elit kolonial yang menetap di Surabaya. Di dalamnya terdapat ruang makan mewah di mana para warga Belanda menikmati musik piano dan cello.
Namun, setelah proklamasi kemerdekaan tahun 1945, terjadi peralihan kekuasaan yang dramatis. Gedung ini dikuasai oleh Arek-arek Suroboyo yang tergabung dalam Pemuda Republik Indonesia (PRI) dan dijadikan sebagai Markas Pemuda. Meskipun sempat direbut kembali oleh tentara Belanda dalam pertempuran sengit, gedung ini akhirnya jatuh sepenuhnya ke tangan Indonesia pasca-kedaulatan. Sejak 12 Desember 1957, namanya resmi diubah menjadi Balai Pemuda untuk mencerminkan semangat perjuangan pemuda.