DE Javasche Bank Soerabaja

Nama Resmi

Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya (sebelumnya dikenal sebagai Surabaya Hoso Kyoku pada masa Jepang dan NIROM pada masa Belanda).

Tahun

Gedung baru pasca-kemerdekaan dibangun tahun 1954 dan selesai 1956. Gedung saat ini merupakan hasil pembangunan ulang tahun 1982.

Fungsi Awal

Pusat kesenian (Kunstkring), kemudian dialihfungsikan menjadi studio siaran dan alat propaganda penguasa kolonial maupun pendudukan Jepang.

Gaya Arsitektur

Gedung tahun 1956 memiliki gaya bangunan nan artistik. Gedung awal di Simpang menempati bekas gedung Kunstkring.

Narasi Deskripsi Sejarah

Signifikansi gedung RRI Surabaya terletak pada perannya sebagai “senjata non-fisik” yang paling ditakuti penjajah. Di gedung ini, hegemoni informasi kolonialisme dan imperialisme dipatahkan.

Pada masa Hindia Belanda, radio digunakan sebagai alat kontrol budaya dan informasi oleh NIROM. Namun, saat Jepang masuk, fungsi tersebut bergeser menjadi mesin propaganda militer melalui Surabaya Hoso Kyoku. Dampak imperialisme sangat terasa ketika akses informasi dibatasi ketat oleh Kempetai (polisi militer Jepang).

Puncak nilai sejarahnya terjadi pasca-Proklamasi. RRI Surabaya menjadi instansi pertama yang direbut secara fisik dari tangan Jepang oleh para pemuda Surabaya pada 27 September 1945. Gedung di Simpang menjadi episentrum perlawanan hingga dibakar habis dalam pertempuran melawan tentara Inggris (Gurkha) pada Oktober 1945, yang mengakibatkan tewasnya puluhan tentara Inggris di dalam gedung tersebut.

1929 – 1934

Perintisan NIROM di Batavia yang kemudian mulai resmi beroperasi di Surabaya pada 1 April 1934.

1942

Jepang memasuki Surabaya; gedung NIROM di Embong Malang dirusak oleh AVC Belanda agar tidak jatuh ke tangan Jepang. Jepang mengambil alih dan mengubah siaran menjadi “Radio Surabaya”.

1942

Siaran berpindah ke Gedung Kunstkring (Jl. Simpang) dengan nama Surabaya Hoso Kyoku.

1945

Berita Proklamasi disiarkan secara sembunyi-sembunyi dalam bahasa Madura oleh R.P Djakfar Brotoatmodjo dan Sukanto Timur untuk menghindari sensor Jepang.

1945

Penyerahan resmi Radio Surabaya kepada pemerintah Indonesia dan berubah nama menjadi RRI Surabaya.

1945

 Gedung Simpang diduduki tentara Inggris (Gurkha). Akibat perlawanan sengit, pemuda membakar gedung tersebut hingga hangus.

1945 – 1946

Siaran bergerilya melalui pemancar darurat di Petemon, Sepanjang, hingga berkumpul di Mojokerto.

  • 1956: Pembangunan kembali gedung RRI di Jl. Pemuda selesai dilakukan.